Sunday, June 20, 2010

Birmingham Small Arms (BSA)




BSA didirikan pada Juni 1861 di Triwulan Gun, Birmingham Inggris oleh empat belas gunsmiths dari Birmingham Small Arms Asosiasi Perdagangan khusus untuk memproduksi senjata dengan mesin, yang disertakan bersama senjata kepada pemerintah Inggris selama Perang Krim. Pabrik-pabrik persenjataan yang dimiliki Pemerintah telah memperkenalkan mesin yang dibuat di Amerika Serikat ke pabrik-pabrik mereka pada pecahnya Perang Krimea pada 1854 yang difasilitasi output dan mengurangi ketergantungan pada pengrajin terampil untuk memproduksi senjata api militer. Jadi keseimbangan itu bergerak melawan gunsmiths Birmingham
[1]. BSA resor untuk penggunaan mesin diberi hadiah pada 1863 dengan perintah untuk 20.000 senapan infanteri Turki. Manajemen Perusahaan BSA berubah pada Rapat Luar Biasa disebut pada September 30, 1863 saat Perusahaan diubah dari yang dijalankan oleh sebuah komite untuk yang dipilih dari Dewan Direksi, Joseph Wilson, Samuel Buckley, Ishak Hollis, Charles Playfair, Charles Pryse, Sir John Ratcliffe, Edward Gem, dan JF Swinburn bawah pimpinan John Dent Goodman
[2]. Perdagangan senjata militer sebagai pesanan genting Pemerintah cepat kering setelah permintaan awal bertemu dalam rangka untuk menjaga pabrik sendiri persenjataan mereka dipekerjakan. BSA tidak menerima pesanan pertama Perang Dinas senjata api sampai 1868
[3]. Perusahaan BSA bercabang menjadi manufaktur sepeda pada tahun 1869 sebagai perdagangan senjata ditolak, tapi pabrik ditutup selama setahun pada tahun 1879 karena kurangnya kerja
[4]; pada tahun 1880 mereka diproduksi di Dicycle Otto, di tahun 1880-an perusahaan mulai memproduksi sepeda pada account mereka sendiri dan tahun 1905 sepeda motor pertama eksperimental perusahaan dibangun. BSA menjual bisnis amunisi untuk pendahulu Interests Nobel ICI pada tahun 1897
[5]. Pada tahun 1906 Frank Dudley Docker diangkat sebagai direktur Perusahaan. Pada musim gugur tahun itu BSA dalam kesulitan beberapa saat mereka telah membeli Pabrik Kecil Sparkbrook Royal Arms dari Kantor Perang dan kembali untuk membeli pabrik, termasuk dalam kontrak, adalah ketentuan bahwa BSA akan mendapatkan seperempat dari seluruh Perang Kantor perintah untuk senapan Lee-Enfield. Kantor Perang tidak mengikuti melakukan mereka
[6]. Dalam upaya untuk menggunakan pabrik Sparkbrook, BSA mendirikan departemen motor-mobil di sana dan prototipe mobil pertama diproduksi pada tahun 1907. Tahun berikutnya perusahaan menjual 150 mobil. Semua itu tidak baik Namun, sebagai sebuah komite penyelidikan dilaporkan kepada Dewan BSA tahun 1909 tentang kegagalan dalam manajemen dan organisasi produksi. Dudley Docker diangkat wakil ketua BSA pada tahun 1909 dan dia mulai berbicara merger dengan Daimler Mobil Perusahaan Coventry
[7]. Pada tahun 1910 dibeli BSA Perusahaan Daimler Inggris untuk keahlian manajemen, tetapi menurut ketentuan merger Daimler terpaksa membayar dividen tahunan BSA sebesar £ 100.000. Ini beban keuangan yang sangat kekurangan Daimler membutuhkan uang tunai untuk mendanai pengembangan perusahaan Daimler memaksa untuk meminjam uang dari Bank Midland. BSA masih belum pulih secara finansial dari awal pembelian RSA Sparkbrook [8]. Pada tahun 1912, BSA akan menjadi salah satu dari dua mobil perintis penggunaan semua baja-tubuh, bergabung Hupmobile di [US

Saturday, April 25, 2009

Reggae & Rasta

Di Indonesia, reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal,
reggae
dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. "Reggae adalah nama
genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah
sebuah pilihan jalan hidup, way of life," ujar Ras Muhamad (23),
pemusik reggae yang sudah 12 tahun menekuni dunia reggae di New York
dan penganut ajaran filosofi rasta. Repotnya, di balik ingar-bingar dan
kegembiraan
yang dibawa reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik
tersebut. Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu
sendiri. "Di sini, penggemar musik reggae, atau sering salah kaprah
disebut rastafarian, diidentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya
hidup
semaunya, tanpa tujuan," ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini.
Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup
bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas.
Penganut rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging,
dan bahkan mengisap rokok. "Para anggota The Wailers (band asli Bob
Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari,"
papar Ras.

Ras mengungkapkan, tidak semua penggemar reggae
adalah penganut rasta, dan sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus
menyenangi lagu reggae. Reggae diidentikkan dengan rasta karena Bob
Marley—pembawa genre musik tersebut ke dunia—adalah seorang penganut
rasta.

Ras menambahkan, salah satu bukti bahwa komunitas reggae di Indonesia
sebagian besar belum memahami ajaran rastafari adalah tidak adanya
pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. "Misalnya waktu
saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka
tidak tahu. Padahal itu adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,"
ungkap pemuda yang menggelung rambut panjangnya dalam sorban ini.

Pemusik
Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia menggunakan embel-embel nama
Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut rasta. Tony mencoba
memahami ajaran rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu
hakikat filosofi, yakni cinta damai. "Yang saya ikuti cuma cinta damai
itu," tutur Tony yang tidak mau menyentuh ganja itu. Namun, meski tidak
memahami dan menjalankan seluruh filosofi rastafari, para penggemar dan
pelaku reggae di Indonesia mengaku mendapatkan sesuatu di balik musik
yang mereka cintai itu. Biasanya, dimulai dari menyenangi musik reggae
(dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian mulai tertarik
mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya.

Seperti diakui Hendry Moses Billy, gitaris grup Papa Rasta asal Yogya, yang
mengaku
musik reggae semakin menguatkan kebenciannya terhadap ketidakadilan dan
penyalahgunaan wewenang. Setiap ditilang polisi, ia lebih memilih berdebat daripada "berdamai". "Masalahnya bukan pada uang, tetapi praktik seperti itu tidak adil," tandas Moses yang mengaku sering dibuntuti orang tak dikenal saat beli rokok tengah malam karena dikira mau beli ganja. Sementara Steven mengaku dirinya menjadi lebih bijak dalam memandang hidup sejak menggeluti musik reggae. Musik reggae, terutama yang dipopulerkan Bob Marley, menurut Steven, mengajarkan perdamaian, keadilan, dan antikekerasan. "Jadi kami memberontak terhadap ketidakadilan, tetapi tidak antikemapanan. Kalau reggae tumbuh, maka di Indonesia tidak akan ada perang. Indonesia akan tersenyum
dengan reggae," ujar Steven mantap. Sila dan Joni dari Bali menegaskan,
seorang rasta sejati tidak harus identik dengan penampilan ala Bob
Marley. "Rasta sejati itu ada di dalam hati," tandas Sila sambil
mengepalkan tangan kanan untuk menepuk dadanya.

Saturday, December 23, 2006

Tuesday, December 12, 2006

@Arjosari Ngalam


Thx to NGACO family